Welcome To http://www.yusmarwandi.blogspot.com Semoga Bermanfaat.
Tampilkan postingan dengan label HISTORIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HISTORIS. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Februari 2012

SEJARAH ACEH DARUSSALAM

SEJARAH SINGKAT ACEH DARUSSALAM 
Bangsa Aceh termasuk ke dalam lingkungan rumpun bangsa Melayu. Yaitu bangsa-bangsa: Mante (Bante), Lanun, Sakai Jakun, Semang (orang laut), Senui dan lain-lain yang berasal dari negeri Perak dan Pahang dari Tanah Semenanjung Melaka. Ke semua bangsa ini menurut ethnology, ada hubungannya dengan bangsa Phonesia di Babylonia dan bangsa Dravida di lembah sungai Indus dan Gangga.

SILSILAH RAJA ISLAM DI ACEH


Asal Usul Raja-Raja Aceh
Kita ketahui, bahwa Islam yang masuk ke Nusantara masih banyak bersilang pendapat dari para ahli sejarah. Pendapat tersebut masing-masing di didukung oleh T.W. Arnold, Sayed Naquib Al-Attas dan Prof. Hamka yang mendukung bahwa Islam datang ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi (1 Hijriyah), namun pendapat lain seperti Snouck Hurgronje, J.P. Moquette dan R.A. Kern yang menyatakan Islam baru datang ke Nusantara pada abad ke-13 dan bukan langsung dari Arab melainkan dari Gujarat.

Sabtu, 18 Februari 2012

mencari kepala cut ali

Mencari Kepala Cut Ali
“Saya di sini dengan 80 pasukan, dan kalau Tuan tidak datang dengan  120 serdadu, lebih baik di rumah saja!”

LELAKI itu terkenal dengan selera humor yang tinggi. Acap kali, saat berada di tengah-tengah masyarakat Aceh ketika melawan Belanda, ia berujar, “Ho ka kompeuni?” ‘di mana kau kompeni?’ sembari berdiri berkacak pinggang.

SEJARAH TEUKU CUT ALI



SEJARAH PAHLAWAN TEUKU CUT ALI
Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi penyayang.

SOSOK TEUKU RAJA ANGKASA




Teuku Raja Angkasah, mendeklarasikan perang melawan Kompeni Belanda. Hingga akhirnya syahid di Buket Gadeng, Kecamatan Bakongan Kabupaten Aceh Selatan, 25 Oktober 1925.
Postur tubuhnya memang kecil, tapi bukan berarti tidak punya nyali dan keberanian. Sejak kecil, sahabat Teuku Cut Ali ini, sudah memiliki keberanian dan kelebihan. Kelihaian dalam memainkan pedang, menjadikan putra dari Teuku Abdurrahman itu disegani kawan-kawan seperjuangannya. Belanda menjulukinya sebagai “Harimau Sumatera” karena keperkasaannya.
Teuku Raja Angkasah mulai memimpin perang melawan marsose Belanda awal tahun 1925. Dalam perang tersebut, banyak marsose Belanda tewas ditangan Raja Angkasah. Hampir setiap hari, ada marsose Belanda yang terbunuh. Keadaaan ini, jelas membuat militer Belanda gusar dan gamang, hingga berujung didirikannya markas marsose Belanda di Bakongan.
Sebelumnya, markas marsose khusus itu hanya ada lima di Aceh, yaitu di Indrapuri (Aceh Besar), Jeuram (Aceh Barat), Tangse (Pidie), Peurelak (Aceh Timur), dan di Takengon (Aceh Tengah). Perang di Bakongan, adalah perang yang paling sulit dan menakutkan bagi marsose Belanda. Maklum, banyak marsose Belanda yang ditugaskan di wilayah ini hanya tinggal nama.
Istilah “Kapal Putih”, momok yang menakutkan bagi Marsose Belanda. Bayangkan, hampir setiap minggu mayat-mayat marsose Belanda diangkut dengan kapal tersebut dari Bakongan menuju Kuta Raja (Banda Aceh) untuk dikuburkan di Komplek Perkuburan Kerkoff di Setui, Banda Aceh. Itulah salah satu bukti dari keganasan Raja Angkasah dalam membasmi Belanda.
Menurut Teuku Ramli Angkasah, putera kandung Raja Angkasah. Ada beberapa penyebab Ayahandanya bertempur melawan Marsose Belanda. Pertama, sikap Belanda yang mulai mencengkram wilayah Aceh, kedua pendirian Tangsi Militer di Bakongan. Ketiga, sikap Belanda yang mengadu domba keluarga Hulubalang Bakongan. Keempat terbunuhnya Ayahanda Teuku Raja Angkasah, yaitu Teuku Abdurahman yang merupakan hasil provokasi Belanda dan antek-anteknya di Bakongan. Dan yang terakhir, Belanda ingin memperkuat basis di Bakongan dengan melemahkan peran Hulubalang.
Perang Bakongan termasuk bagian Perang Aceh yang sangat menguras enerji maupun biaya bagi pihak Belanda, termasuk menewaskan Prajurit Belanda yang sedemikian banyak diantaranya terdapat beberapa Jenderal Belanda. Teuku Raja Angkasah memiliki cara yang unik saat bertempur dengan Belanda. Strategi yang digunakan Teuku Raja Angkasah dalam Perang Bakongan adalah :
·        Sebelum bertempur Teuku Raja Angkasah senantiasa mengirimkan surat tantangan kepada Marsose Belanda untuk melakukan pertempuran di suatu tempat. Strategi ini merupakan bentuk perang urat syaraf (psywar) untuk menjatuhkan mental pihak lawan.
·        Mengingat keunggulan Teuku Raja Angkasah dalam bermain pedang dan keterbatasan persediaan senapang mesin yang dimilikinya, Teuku Raja Angkasah sering menawarkan untuk bertanding pedang dengan Komandan Marsose Belanda, diantaranya Kapten Paris yang dikenal sebagai Singa Afrika dan sebelumnya pernah menjadi Komandan Pasukan Belanda di Afrika Selatan. Teuku Raja Angkasah unggul dalam pertandingan pedang ini. Keunggulan Teuku Raja Angkasah dalam bermain pedang ini adalah kemampuannya untuk meloncat seolah-olah melayang sambil mengayunkan pedangnya kepihak musuh.
·        Melakukan jebakan dengan menggunakan tali pada jalur-jalur yang dilalui oleh Pasukan Marsose Belanda. Saat Marsose Belanda terperangkap pada tali-tali tersebut maka Teuku Raja Angkasah bersama Pasukannya melakukan penyerbuan dan menghabisi para Marsose tersebut.
·        Teuku Raja Angkasah bersama pasukannya menunggu di puncak bukit (Bukit Gading di Hulu Bakongan). Dikaki Bukit terletak sungai yang dilalui Belanda. Saat Belanda menyeberang sungai maka Teuku Raja Angkasah bersama pasukannya akan menyerbu dari atas sehingga membuat Pasukan Marsose Belanda kocar-kacir.
·        Berkoordinasi dengan pejuang lainnya diantaranya Teuku Cut Ali dan Teuku Datuk Raja Lelo untuk mengatur posisi secara menyebar sehingga menyulitkan pihak Belanda.
Belanda, kebingungan dan kewalahan atas perlawanan yang dilakukan Raja Angkasah beserta panglima perangnya. Acap kali, setiap peperangan berlangsung banyak marsose Belanda yang gugur. Berbagai cara pun dilakukan, agar Raja Angkasah dan pengikutnya dapat dilumpuhkan. Kompeni Belanda, menyebut Teuku Angkasah sebagai Teuku Angkasa. Itu dikarenakan, kemahirannya melompat dan melayang sambil mengayunkan pedang. Belanda hampir kehilangan akal untuk melumpuhkan “Harimau Sumatra” tersebut. Hingga akhirnya, Komando Pusat Belanda di Batavia (Jakarta), mengirim Kapten Paris ke Bakongan.
Kapten Paris, yang di juluki “Singa Afrika” khusus dikirim untuk melumpuhkan kekuatan Raja Angkasah dan pejuang lain. Sebelumnya, Kapten Paris pernah memimpin pasukan Belanda di Afrika Selatan dan terkenal dengan ketangguhannya bermain pedang. Diutusnya Kapten Paris ke Bakongan, tak membuat Raja Angkasah gentar dan takut. Untuk membuktikan kehebatan Kapten Paris, Raja Angkasah menantangnya satu lawan satu. Ajakan itu, tentu diterima Kapten Paris dengan senang hati. Sebaliknya, Kapten Paris, juga ingin membuktikan kehebatan Teuku Raja Angkasah. Tanding pedang Teuku Raja Angkasah versus Kapten Paris pun berlangsung alot. Singa Afrika tersebut kewalahan menghadapi kelincahan Raja Angkasah dalam memainkan pedang. Hingga akhirnya, Kapten Paris terluka parah. Namun, Teuku Raja Angkasah tidak langsung membunuhnya.
Kapten Paris diberi kesempatan untuk memulihkan diri sampai sembuh. Dan setelah itu ditantang lagi untuk bertanding pedang. Namun, adu pedang yang kedua ini tidak dilakukan, karena Marsose Belanda mempunyai strategi lain. Marsose Belanda, yang licik dan mahir tipu muslihat, menjebak Teuku Raja Angkasah beserta tiga panglimanya. Pengepungan di Buket Gadeng itu, melibatkan puluhan marsose Belanda dengan senjata lengkap. Diawali dengan adanya seorang pengkhianat yang mengantarkan makanan.
Kemudian pengkhianat ini dari belakang diikuti oleh Pasukan Marsose Belanda, saat Teuku Raja Angkasah bersama Panglimanya menyantap makanan yang diduga telah diracun untuk melemahkan badan, Pasukan Marsose Belanda melakukan penyergapan. Marsose Belanda dengan jumlah lebih banyak - puluhan orang - dan bersenjata lengkap menyerbu posisi kemah Teuku Raja Angkasah bersama 3 orang Panglimanya. Marsose Belanda, yang licik dan mahir tipu muslihat, menjebak Teuku Raja Angkasah beserta tiga panglimanya. Pengepungan di Buket Gadeng itu, melibatkan puluhan marsose Belanda dengan senjata lengkap. Tembakan dilepaskan secara bertubi-tubi, mengenai tubuh Raja Angkasa dan tiga panglimanya.
Dalam kondisi terdesak ini Teuku Raja Angkasah sempat menggunakan karabinnya (senapang tua). Karena terus ditembakan karabin itu menjadi sangat panas, kemudian Teuku Raja Angkasah membuka sorbannya untuk membalut karabin yang panas tersebut sambil mulutnya mengeluarkan sumpah serapah kepada Marsose Belanda. Sebetulnya beberapa peluru telah mengenai badan Teuku Raja Angkasah namun beliau masih bertahan. Saat dalam keadaan terdesak tersebut beliau masih terus melakukan perlawanan. Namun kemudian peluru habis dan beliau kemudian berteriak memaki Pasukan Marsose Belanda sambil mencoba menggunakan pedangnya untuk menyerbu Marsose Belanda sambil mencoba menggunakan pedangnya untuk menyerbu Marsose.
Pada saat inilah seorang penembak jitu dari Pasukan Marsose Belanda berhasil menembakan satu peluru menembus ke mulut beliau sehingga ajal pun menjemputnya. Dia syahid bersama tiga panglimanya. Salah satu panglimanya hanyut terbawa arus sungai saat marsose Belanda membombardir tempat persembunyian Teuku Raja Angkasah dan panglimanya. Setelah syahid, pihak Belanda ingin memenggal kepala Teuku Raja Angkasah dan dibawa ke Kuta Raja. Kepala Teuku Raja Angkasah, akan diperlihatkan kepada Pejabat Tinggi Kolonial Belanda, sebagai bukti Raja Angkasah telah dilumpuhkan. Namun, Raja Bakongan, yang saat itu dijabat pamannya (dalam bahasa Aceh Ayahcut—red) berhasil mencegah. Akhirnya Teuku Raja Angkasah dan panglimanya dimakamkan di Buket Gadeng.
Perang Bakongan yang dipimpin Teuku Raja Angkasah, membuktikan bahwa perang di Aceh tidak pernah berakhir, meskipun Sultan Aceh telah tertangkap Belanda pada tahun 1904. Setelah tahun 1904 masih banyak terjadi perang melawan Belanda di Aceh. Salah satunya adalah perang di Bakongan yang membuat Teuku Raja Angkasah syahid bersama tiga panglimanya. Jadi, sesungguhnya, Belanda tidak pernah menguasai Aceh, namun yang terjadi, perang terus menerus antara Aceh dengan Belanda. Mengenai tahun dan wafatnya Teuku Angkasah, ada beberapa pendapat. Sebagian mengatakan 25 Oktober 1925, lainnya 25 Oktober 1928. Begitulah catatan sejarahnya.

Selasa, 14 Februari 2012

KESULTANAN TRUMON

Kesultanan Trumon merupakan kerajaan Batak yang diakuisisi oleh Kesultanan Aceh setelah rajanya masuk Islam. Bendera Kerajaan Trumon merupakan cikal-bakal bendera yang dipakai oleh Sisingamangaraja XII. Kerajaan Batak Sisingamangaraja XII disinyalir masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Kerajaan di Singkil khususnya Kerajaan Trumon ini. Karena sebelum diakuisisi oleh Aceh, Kerajaan Trumon merupakan provinsi dari Kesultanan Barus. Kesultanan Barus di Kawasan Fansur, bukan yang Hulu, didirikan oleh Keturunan Raja Uti dimana Raja Uti diyakini masih merupakan "paman adat" Dinasti Sisingamangaraja di Bakkara. Sekarang ini masih terdapat bangunan benteng di Trumon sebagai bukti sejarah kerajaan ini. Bangunan benteng Kuta Batee dibangun ketika Kerajaan Trumon dipimpin atau di bawah pemerintahan Teuku Raja Fansuri Alamsyah yang juga dikenal dengan sebutan Teuku Raja Batak. Dalam masa ini pula, Trumon meraih kejayaannya hingga berhasil mencetak mata uang sendiri sebagai alat tukar yang sah. Teuku Raja Batak ini merupakan raja ketiga, menggantikan ayahnya bernama Teuku Raja Bujang yang sebelumnya menerima tahta dari kakeknya (ayah Raja Bujang) yaitu Teuku Djakfar selaku pendiri Kerajaan Trumon dan Kerajaan Singkil.
KESULTANAN TRUMON DI SINGKIL

Merupakan Kesultanan Batak di Singkil. Terakhir berakuisisi menjadi bagian dari Kerajaan Aceh. Bendera Kesultanan Tarumon inilah yang mengilhami bendera Dinasti Sisingamangaraja di Tanah Batak. Founded By: Kelompok Masyarakat Adat Kesultanan Tarumon Jumlah Penduduk Laki-Laki Tahun 2003 Prop. : NANGGROE ACEH DARUSSALAM Kab. : ACEH SELATAN Kec. : TRUMON Desa Jiwa KUTA PADANG 122 RAKET 116 GAMPONG TENGAH 57 TEPIN TINGGI 203 IE MEUDAMA 126 TITI POBEN 72 ALUR BUJOK 68 SEUNEUBOK PUNTHO 139 UJONG TAN0H 144 KEUDE TRUMON 406 KUTA BARU 120 SINGLENG 127 PANTON BILI 73 GUN0NG KAPHO 190 GAMPONG TEUNGOH 77 KRUENG BATEE 347 PULO PAYA 274 LADANG RIMBA 751 JAMBO PAPEUN 174 NACA 175 IE JEUREUNEH 377 PINTO RIMBA 456 KRUNG LUAS 423 JAMBO DALEM 756 KAPAI SEUSAK 810 UPT I SNB PUSAKA 555 UPT II PD HARAPAN 60 UPT III COT BAYU 331 LHOK RAYA(EX.UPTIV) 59 SEUNABOK JAYA (EX UPT V) 72 Jumlah 7,660

sejarah kerajaan trumon


A.    KERAJAAN TRUMON DALAM UNTAIAN MATA RANTAI SEJARAH BANGSA

a)      ASAL USUL RAJA-RAJA KERAJAAN TRUMON
Asal usul Raja kerajaan Trumon,berasal dari Asia kecil atau dari rumpun suku-suku Bangsa Arab,menurut silsilah kami Ja Thahir berasal dari Baghdad dan hijrah ke Timur dan menetaplah di Bate Pidie (Aceh).
Ja Thahir mempunyaI beberapa orang anak,diantaranya bernama  Ja ABDULLAH  (DULLAH) juga menetap di BATEE PIDIE.
JA ABDULLAH mempunyai anak di antara lain JA JOHAN,JA JOHAN ini menetap di Tanoh Abee Seulimum,mempunyai anak di antara lain TENGKU JAKFAR salah seorang dari murid TENGKU di ANJONG di PELENGGAHAN.Setelah selesai (tamat) dari belajar agama islam,TENGKU JAKFAR di suruh  oleh guru beliau untuk berangkat kesebelah Barat Aceh.
Mula-mula TENGKU JAKFAR menetap di Unjong Seurangga Susoh. Di sini beliau mengajar Agama Islam dan mendapat gelar  LABAI,juga di kenal dengan labai jakfar disini beliau tidak berapa lama dan melanjutkan perjalanan sampai kedaerah SINGKIL,dan menetap disini.Atas rahmat  Allah  TENGKU JAKFAR membuka negri yang disebut PAYA BOMBONG.Kemudian TENGKU JAKFAR membuka perkebunan lada (MERICA)pada suatu dataran sebelah utara singkil yang kemudian disebut TRUMON.Asal kata TRUMON adalah :waktu TENGKU JAKFAR mensurvei dataran tersebut didapatilah sebuah sumur  tua dan di tepinya ada sebatang terung jadi dalam bahasa Aceh di sebut:”TRUNG BINEI MON”lama kelamaan menjadi “TRUMON”.Demikianlah cerita yang kami terima secara turun temurun.
Negeri yang baru dibuka ini mulai ditata sejak tahun 1780 M dan beliau yang menjadi pengusaha pertama sebagai Raja di negri tersebut dengan nama “KERAJAAN TRUMON”.TENGKU JAKFAR juga bergelar teuku Raja Singkil tapi biasa di sebut Teuku Singkil yang lebih populer.Beliau meninggal di Trumon dalam tahun 1812 M.
TENGKU DJAKFAR alias Tengku Singkil sebelum membangun Trumon telah membangun negeri-negeri Paya Bakong,teluk Abon,Rantau Gedang dan Teluk Rumbia,setelah Trumon dijadikan pusat kerajaan yang merupakan ibu kota kerajaan,maka seperti negeri-negeri lain yang dibangunnya,diangkatlah anak-anak beliau menjadi Ulee Balang sebagai pengusaha dinegeri tersebut.Pada saat ini kerajaan Trumon belum mendapat pengakuan dari Sultan Aceh yang berarti berdaulat penuh.